Digital Detox

Teknologi seolah menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, keberadaan teknologi memudahkan kehidupan. Tapi, di sisi lainnya kehadiran teknologi justru membuat orang kerepotan jika tak piawai memanfaatkannya.

Di era digital, orang bisa dengan mudah menghubungi dan dihubungi hampir di setiap tempat dan waktu. Di saat bersamaan, teknologi membuat orang seakan tidak mempunyai waktu mengistirahatkan pikiran. Kehadiran teknologi lewat gadget yang dimiliki membuat kita seolah terhubung 24 jam dengan orang lain. Gadget tak hanya terbatas pada telepon pintar saja. Televisi pun masuk kategori tersebut. “Sesuatu yang digunakan tanpa batas efeknya pasti jelek,” kata psikolog Vera Itabiliana.

gadgetsPerangkap Kelas Sosial

Sosiolog Musni Umar mengatakan, sebagian masyarakat hanya menggunakan gadget untuk menunjukkan kelasnya. Alhasil, pemanfaatannya pun tidak maksimal. “Banyak yang tidak paham cara mendayagunakannya dan hanya membeli untuk menunjukkan kelasnya yang tinggi dan elite,” kata dia.

Pemanfaatan teknologi semestinya dapat meningkatkan hubungan sosial, ekonomi, bisnis, politik, pendidikan, dan menunjang bidang kehidupan lainnya. Teknologi sebenarnya bersifat netral. Namun, ada yang menggunakannya untuk kejahatan ataupun untuk kepentingan positif.

Musni mengkhawatirkan, kemajuan teknologi bisa menghambat perkembangan budaya baca masyarakat. Apalagi, gadget lebih banyak digunakan sebagai media hiburan ketimbang alat untuk mengakses informasi bernilai edukasi. “Kalau tidak memberi manfaat yang maksimal, orang perlu berupaya mengurangi kecanduan teknologi,” komentarnya.

Masyarakat di beberapa negara sudah mulai mengurangi kecanduan penggunaan gadget. Mereka melakukan (digital detox). Di Indonesia, kampanye tersebut baru dilakukan secara individual oleh segelintir orang. Mereka membatasi waktu untuk mengakses media sosial. “Digital detox belum menjadi gerakan,” ucap pemerhati teknologi Enda Nasution.

Digital detox bisa dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, benar-benar berhenti dan sama sekali tidak mengakses gadget. Kedua, menerapkan jam-jam tertentu dalam mengakses informasi dari gadget. Orang yang ingin menjalani digital detox harus mempunyai komitmen kuat. Namun, butuh proses untuk merealisasikannya. Jika merasa gadget sudah mendatangkan masalah, cobalah memodifikasi gaya hidup. Ketergantungan terhadap dunia digital harus diatasi. “Lakukan pengkondisian agar kita tidak menjadi ‘budak’ gadget,” saran Enda yang dijuluki Bapak Bloger Indonesia.

Sumber.